niasmeiman


MANUSIA LAMA & MANUSIA BARU MENURUT PAULUS
Desember 2, 2011, 11:32 pm
Filed under: Uncategorized

 

Tugas  Presentasi Kelompok 4

Teres,Meiman M Gulo,Julius Gulo,Destenty Marlianda Zebua

Dosen : Pdt.Orwel S Gulo.

Karena dalam kenyataan sehari-hari setiap orang Kristen mengalami proses jatuh bangun dalam kerohaniannya. Apakah dapat disebut sebagai manusia baru namun masih dapat jatuh dalam perbuatan dosa atau masih bisa melakukan perbuatan-perbuatan kegelapan. Karena orang percaya yang telah dikuduskan secara definitif (status dikuduskan dan dibenarkan) dan juga sedang dalam proses pengudusan progresif, maka sering muncul pertanyaan tentang apakah orang Kristen di satu sisi adalah manusia lama dan di sisi lain adalah manusia baru?
Istilah manusia lama kita temukan dalam Roma 6: 6; Kol. 3: 9; Efe. 4: 22, dan istilah manusia baru dalam Efe. 2: 15, 4: 24; Kol. 3: 10. Dalam ayat-ayat tersebut Paulus mengkontraskan antara sifat manusia lama dan sifat manusia baru serta perbedaan status dan keadaan manusia lama dan manusia baru. Jadi jelas sebetulnya bahwa manusia lama dan manusia baru merupakan aspek yang dapat dibedakan dalam kehidupan orang percaya. Mungkin ada yang berpikir bahwa orang percaya berada dalam kedua natur ini, yaitu sebagai manusia lama dan sebagai manusia baru pada saat bersamaan. Di satu sisi orang pecaya sebagai manusia lama yang telah dibenarkan dan dikuduskan, namun di sisi lain adalah juga manusia lama yang dalam eksistensinya masih bisa melakukan dosa.

Paulus sebetulnya tidak mengajarkan konsep seperti itu, dalam Roma 6: 6-7 dituliskan bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan dan tubuh dosa telah hilang kuasanya, agar orang percaya tidak menghambakan diri lagi kepada dosa. Karena orang yang telah diselamatkan telah mati bagi dosa dan telah bebas dari dosa. Artinya orang Kristen hanya diberikan satu pilihan dan satu hak sebagai orang percaya untuk hidup bagi kebenaran saja dan bukan hidup bagi dosa, dengan kata lain orang Kristen harus hidup sebagai manusia baru dan mematikan manusia lamanya.

John Calvin mengatakan Jika kita telah benar-benar menerima bagian di dalam  kematian Kristus, manusia lama kita telah disalibkan oleh kuasa-Nya, dan tubuh dosa telah binasa dan kerusakan pada manusia lama tidak berperan lagi. Jika kita telah menerima kebangkitan Kristus, olehnya kita telah dibangkitkan kepada hidup yang baru yang selaras dengan kebenaran Allah.   Dalam 2 Kor 5: 7 juga ditegaskan bahwa setiap orang yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru, yang lama sudah berlalu dan yang baru sudah datang. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa orang percaya tidak berada dalam dua status, sebagai manusia lama dan sebagai manusia baru, statusnya adalah benar-benar manusia baru. John Murray (Principle of Conduct) mengatakan bahwa manusia lama adalah manusia yang belum lahir baru, manusia baru sudah lahir baru, sehingga tidak mungkin lagi menyebut orang percaya sebagai manusia lama dan manusia baru. Selain itu Anthony Hoekema (Saved by Grace) menekankan bahwa dengan lahir baru orang percaya telah menerima natur baru sehingga dimampukan untuk hidup menyenangkan Allah. Memang orang percaya masih memiliki natur keberdosaan di mana ia tetap bergumul dengannya dan berusaha untuk menghidupi manusia barunya, namun tidak lagi disebut manusia lama atau orang lama. Manusia lama secara total dikuasai oleh dosa, tetapi manusia baru  seutuhnya sudah berada dalam pimpinan Roh Kudus sekalipun belum dalam kesempurnaan yang sepenuhnya.

Dalam statusnya yang baru orang Kristen bukan lagi sebagai manusia lama, tetapi sebagai manusia baru yang sedang diperbaui terus menerus supaya menjadi semakin serupa dengan Kristus (Roma 8:29). Orang Kristen adalah manusia baru tetapi belum sempurna, kesempurnaan itu hanya akan terjadi dalam pemuliaan yang akan dikaruniakan dalam kedatangan Kristus yang kedua (Roma 8: 30).

Ciri-Ciri manusia Lama

Ciri manusia lama yang pertama, “Pengertiannya gelap”.Atau masih hidup dalam kegelapan. Yang dimaksud dengan pengertian yang gelap disini adalah hidup tanpa arah dan tujuan, tidak mengetahui tujuan hidup, tidak berjalan dalam hikmat dan pengertian ilahi karena itu tindakannya pun gelap, dengan demikian akan menjalani masa depan yang gelap pula, inilah ciri khas orang dunia.

Orang seperti ini bagaikan seorang buta, yang tidak mengetahui kebenaran, dalam menjalani kehidupannya, ia tidak berjalan dalam terang kebenaran.Hidup seakan-akan dalam Tuhan tetapi masih terus hidup dalam kegelapan, hidup terus diperhamba dan dijajah oleh dosa.

Hari-hari ini ada banyak orang yang aktif ke gereja tapi hidupnya masih gelap, karakternya masih seperti karakter orang yang belum mengenal Tuhan, tidak berpikir panjang, gampang emosi, mudah terpancing amarah, gampang memilih jalan pintas, sering mengambil keputusan yang keliru, dan menjadi seorang yang masa bodoh terhadap orang lain.

Saudara ketika Rasul Paulus mengatakan tentang manusia baru ini, Rasul Paulus tidak berbicara kepada orang-orang belum percaya tetapi kepada orang percaya di Efesus, agar mereka tidak hidup dalam pengertian yang gelap.Itu berarti bahwa ada orang-orang sudah percaya Tuhan tetapi hidupnya masih dalam kegelapan. Jadi jika kita masih memiliki pengertian yang gelap, walaupun kelihatan rajin ke gereja, rajin berdoa, rajin baca Alkitab, bahkan sudah terlibat aktif dalam pelayanan itu tidak otomatis bahwa kita sudah menjadi manusia yang baru. Sebab manusia baru pasti sudah hidup dalam terang, bukan dalam kegelapan..

 

Ciri manusia lama yang kedua yaitu, “hidup jauh dari persekutuan dengan Tuhan”.
Apa arti jauh dari persekutuan dengan Tuhan. Orang yang jauh dari persekutuan dengan Tuhan, ia tidak menjadikan Tuhan menjadi pusat hidupnya. Ia tidak memiliki hubungan pribadi yang baik dengan Tuhan.
Ciri-ciri orang seperti ini adalah: Ia tidak pernah berdoa secara pribadi kepada Tuhan, Dia tidak mengandalkan Tuhan dalam hidupnya tetapi dirinya sendiri. Kristus tidak hidup didalam dirinya tetapi dirinya dengan segalah keinginan kedagingan. Orang seperti ini akan sulit menjalani kehidupannya dengan kedamaian, yang ia pikirkan hanya kesenangan-kesenangan dirinya sendiri, dan tidak terpikir olehnya bagaimana nasipnya di kehidupan yang akan datang, karena itu jauh dari pikirannya untuk memiliki jalan keselamatan.

Oleh karena tidak memiliki damai, yang ia cari adalah kesenangan-kesenangan duniawi. Tetapi seorang yang memiliki hubungan baik dengan Tuhan sekalipun ia punya masalah, menghadapi tantangan hal itu tidaklah membuat ia jadi kompromi dengan perkara-perkara duniawi, justru sebaliknya membuat ia semakin mendekatkan diri pada Tuhan. Itulah sebabnya Daud berkata; “hanya dekat Allah saja aku tenang,” orang yang memiliki damai pasti merasa hidupnya dekat Tuhan.

Saudara jikalau dalam hidup kita, kita tidak memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan, maka itu berarti bahwa kita belum menjadi manusia yang baru tetapi manusia yang lama. Orang yang telah hidup baru ia akan selalu memiliki kerinduan untuk dekat dengan Tuhan. JIkalau ia tidak berbicara dengan Tuhan dalam sehari maka dia merasa ada sesuatu yang hilang.

Ciri manusia lama yang ketiga adalah, “Bodoh dan Degil”.

Orang yang sudah mempunyai kehidupan baru, sudah dilahirkan baru, bukan lagi orang bodoh. Namun penger-tian bodoh di sini juga jangan disalah mengerti. Bodoh di sini adalah bodoh secara rohani, bukan matematis. Ini bukan me-nyangkut IQ jongkok atau tidak. Orang yang sangat pintar, ahli matematika, jago fisika, intelek-tual, bisa menjadi orang yang paling bodoh dalam hal pengenalan akan Allah, karena dia akan berkata, “Tidak ada Allah”. Dia menjadi ateis.

Tetapi ketika orang dilahirkan baru, dia punya kemampuan berpikir yang hebat, karena mampu menangkap dan mengerti siapa Allah, dan apa yang menjadi kehendak-Nya. Ini suatu kemampuan berpikir yang sudah diperbaharui Roh Allah dan diberi kemampuan dan kekuatan oleh Roh Allah sehingga dia tidak lagi menjadi bodoh untuk mengenal siapa Allah.
Sekarang dia tahu siapa Allah itu. Orang yang hidup dalam status baru, melihat ke belakang adalah melihat kebencian dan kegelapan. Maka ia selalu berpacu ke depan untuk menjangkau pengharapan yang Tuhan sediakan dia akan selalu berjalan didalam iman

 

Ciri manusia baru

Orang Kristen adalah orang yang tidak pernah berhenti belajar untuk mengenal Tuhan dan pengajaran di dalam Dia. Di dalam Fil 3:10, rasul Paulus menghendaki supaya ia semakin mengenal Kristus di dalam hidupnya.

Jadi, jangan berhenti untuk belajar mengenal Kristus dan kebenaran-Nya, karena ini adalah fondasi yang sangat penting di dalam iman Kristen. Jika tidak, kita tidak akan memiliki dasar yang benar, dan terombang-ambing di dalam pengajaran yang salah. Sebab tidak semua hal yang baik itu adalah benar.

 
Contoh : ajaran sesat selalu memperkenalkan diri sebagai ajaran yang baik, padahal isi pengajarannya penuh kesesatan. Tetapi semua yang benar pasti baik. Tentunya baik menurut Tuhan bukan baik menurut manusia.

Setelah lahir baru bukan berarti otomatis sudah sempurna, karena itu kita harus mau belajar. Kita belajar akan sifat Kristus, belajar sabar, belajar mengasihi, belajar mengampuni, belajar setia, belajar untuk dengar-dengaran kepada perintah Tuhan, belajar untuk menguasai diri, belajar menahan diri dari kemarahan dlsb, seperti yang dikatakan Rasul PAulus dalam ayt 25-32) Proses kita belajar bahkan sampai dapat serupa dengan Kristus.2 Ayat 21; Ciri manusia baru yang kedua, “Mendengar dan Menerima”.Saudara apa yang didengar dan apa yang diterima, yang dimaksud disini adalah bahwa Orang Efesus dan juga kita sudah mendengar tentang Kristus dan menerima ajaran Yesus.

Hal ini berbicara tentang sifat dan kehidupan Kristus, dimana Yesus telah memberi contoh dan teladan bagaimana kehidupan di dunia ini. Bgm Yesus meresponi perlakuan orang terhadap dirinya. Ketika ia difitnah Ia mengampuni, dia diperlakukan dengan tidak adil Ia tetap sabar.

Demikian juga dengan manusia baru Ketika difitnah ia terima dan bahkan dapat mengampuni, tetapi manusia lama tidak dapat menerima bahkan akan menuntut. Bagi yang dapat menerima pada akhirnya akan selalu dipuaskan, tetapi seorang penuntut pada akhirnya akan kecewa dan memberontak. Banyak orang hari-hari ini hanya bisa menuntut dan susah untuk menerima dan bersyukur.

Banyak orang bisa bersyukur ketika hidupnya tidak masalah, tidak pergumulan, tetapi pergumulan menghadang dirinya ia tidak dapat mengucap syukur. Dia tidak dapat mengatakan Tuhan itu baik, tetapi sebaliknya.

Saudara sebagaimana istri Ayub, ketika hidup Ayub dan keluarganya berlimpa kekayaan dan berkat ia dapat mengucap syukur kepada Allah dan mengatakan Tuhan itu baik, tetapi ketika Ayub ditimpa malapetaka dan pergumulan yang berat . Ayub jatuh miskin, mendapat sakit penyakit…Ia katakan kepada Ayub kutuklah Allahmu, dan matilah.

Saudara orang yang telah menjadi manusia baru, ia dapat menerima semua yang dialami didalam hidupnya dengan penuh syukur, karena dia mengetahui bahwa Tuhan itu baik, dan Tuhan tidak akan merancangkan hal-hal yang jahat bagi anak-anakNya.Orang yang telah menjadi manusia baru dia selalu meneladani sifat-sifat Kristus, dan menjadi sama seperti Kristus
Tantangan perubahan 

 

Mungkin banyak orang Kristen bertanya, apakah sesudah Kristen, Allah menghendaki perubahan total? Tentu saja jawabannya adalah ya, namun apakah mungkin seseorang dapat berubah secara total? Jawabannya juga adalah ya! Seperti tertulis dalam Efesus 4: 22-24: yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.

 

Proses inilah yang kita sebut sebagai progressive sanctification, di mana secara bertahap dalam seluruh aspek kehidupan seorang Kristen mengalami pertumbuhan secara konstan dan konsisten (secara pasti semakin baik). Perubahan ini tidak dapat dikerjakan dengan usaha orang Kristen itu sendiri, karena sesungguhnya tidak seorang pun sanggup memenuhi tuntutan kebenaran Allah dengan usahanya sendiri.

Hanya pertolongan Roh Kudus yang sanggup memampukan orang Kristen untuk hidup dalam ketaatan kepada Allah dan Firman-Nya (2 Kor 3:8). Namun mengalami perubahan ini tentu bukanlah sesuatu yang dapat terjadi secara instan dan mudah, kebanyakan orang tidak mampu berubah secara total dalam hidupnya. Mungkin dengan kata lain, kebanyakan orang tidak bersedia membayar harga perubahan itu. Ada beberapa faktor penyebabnya: per-tama, karena perubahan itu seringkali tidak mengenakkan dan tentu sangat tidak nyaman. Kedua, perubahan adalah sebuah proses yang penuh pengorbanan, untuk itu diperlukan ketabahan, ketekunan dan kesabaran dan memakan waktu. Terkadang baru bertahun-tahun kemudian kita bisa mendapatkan hasil perubahan yang kita inginkan. Ketiga, perubahan bisa menjadi sumber konflik baru bagi diri sendiri maupun dengan orang-orang di sekitar kita.

Perubahan selalu mengakibatkan krisis (disequilibrium) tetapi jika diteruskan dengan kesungguhan dan ketaatan kepada Allah akan memberikan hasil yang nyata. Menjadi manusia baru ditandai oleh proses pertumbuhan yang jelas pada perubahan sikap dan tingkah laku sehari-hari. Meski banyak manusia yang tidak menyukai perubahan,  namun perubahan adalah satu-satunya penentu dan  sumber kemajuan kerohanian dan kepribadian seseorang. Perubahan seperti apa yang bisa memberikan kemajuan yang berarti? Yang jelas, perubahan yang dimulai dari diri sendiri, dengan membuat langkah-langkah perubahan (action) yang jelas dan dengan kemauan yang kuat dan tak terbendung.

Alkitab mengajarkan tentang perubahan kepada kita dalam Roma 12: 2; Filipi 4: 8; Matius 7:12, yang mencakup perubahan pada: (1) Cara Berpikir & Keyakinan, dengan mengubah cara berpikir akan mengubah keyakinan, oleh karena itu setiap manusia baru harus memikirkan segala sesuatu dalam persfektif yang baik dan benar seperti tertulis dalam Filipi 4: 8 dan Roma 12: 2; (2) Perubahan pada kata-kata, perubahan pada cara berbicara dan berkata-kata dapat mengubah banyak hal dalam relasi seseorang dengan yang lain. Kata-kata yang lemah lembut, kata-kata yang positif dan membangun serta menguatkan sangat diperlukan oleh setiap orang dan sangat memberkati orang lain; (3) Perubahan pada sikap dan tingkah laku, yang akan menghasilkan perubahan pada hidup. Setiap orang sering tanpa sadar memilih pola tingkah laku tertentu dan melakukan tindakan-tindakan tertentu sebagai suatu kebiasaan. Namun kalau pola (kebiasaan) itu adalah tingkah laku yang tidak baik, maka harus diubah menjadi satu tingkah laku (kebiasaan) yang baru seperti tertulis dalam Efesus 4: 28-32.

 

Oleh karena itu perubahan adalah suatu keharusan, perubahan adalah kebutuhan, perubahan adalah keputusan. CS. Lewis berkata: Perubahan sementara bukanlah pertumbuhan, pertumbuhan adalah sintesis dari perubahan dan kontinuitas, dimana tidak ada kontinuitas, berarti tidak ada perubahan. Perubahan memang seringkali tidak menyenangkan, bahkan selalu menuntut perjuangan dan pengorbanan, namun perubahanlah satu-satunya sarana efektif menuju ke tahapan kerohanian yang lebih baik sebagaimana yang Allah inginkan. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.(Roma 12:2).

siapakah manusia baru dalam Kristus itu?

Manusia baru dalam Kristus itu adalah manusia yang telah mengalami pencerahan spiritualitas yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Bukan manusia lama yang masih terikat ritual-ritual agamawi sebagai pusat spiritualitasnya, atau manusia lama yang terikat dengan keinginan-keinginan daging (Galatia 5:19), tapi manusia baru yang telah dan terus belajar mengenal Kristus (Efesus 4:20). Pengenalan akan Kristus itu bukan berbasis kognitif yang semata-mata intelektual tapi pengenalan yang berbasis keintiman (intimacy),kontemplatif, dan aplikatif. Pusat spiritualitasnya adalah Kristus sebagai Guru Agung Karakter, Tuhan dan Juruselamat Pribadi.

Menjalani hidup untuk Kristus adalah tujuan hidup seorang manusia baru ( 2 Korintus 5:15). Hidup adalah Kristus mati adalah untung, kata Rasul Paulus. Bahkan salah satu tujuan hidup seorang manusia baru adalah mengembangkan karakternya menjadi seperti Kristus. Kesulitan, kegagalan dan tantangan dalam kehidupan dianggap sebagai proses pembelajaran sebagai murid Kristus.Ukuran seorang manusia baru bukan ukuran lahiriah tapi batiniah ( 2 Korintus 5:12). Begitu juga paradigma manusia baru adalah paradigma batiniah. Kacamata rohaninya lebih tertuju kepada apa yang tidak kelihatan bukan yang kelihatan, yang fana itu.

Orientasi manusia baru ke depan adalah kekekalan. Kekekalan yang bukan dimulai setelah matinya tubuh tapi kekekalan yang dimulai saat Kristus lahir di hati, kekekalan yang dirasa sejak kini bukan kelak semata ( Yohanes 3: 15-36).

MANUSIA BARU

Setiap orang Kristen pasti pernah bergumul dengan dosa yang ada pada dirinya. Kita tahu tidak seharusnya kita berdosa namun kita tetap melakukan perbuatan yang sama. Ada yang terus bergumul dengan emosi marah; tidak mau marah namun toh marah. Ada yang bergumul dengan dosa berbohong; kita tahu itu salah, tetap saja kita mengulangnya. Ada yang bergumul dengan dosa seksual; kita ingin lepas tetapi terus melakukannya. Kita merana dan ingin bebas tetapi masih terbelenggu oleh dosa yang sama. Kadang kita bertanya-tanya, di manakah kebenaran ayat yang berbunyi, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17) Apakah artinya ayat ini?

Roma 12:2 berkata, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Efesus 4:23-24, “supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu dan mengenakan manusia baru yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” Kata, “budi” di Roma 12 berarti pikiran; jadi, dari dua ayat ini dapat kita simpulkan bahwa perubahan mesti terjadi pertama-tama pada pemikiran. Dengan kata lain, manusia baru di dalam Kristus adalah manusia yang berpikir seperti Kristus.

Bagian berikutnya dalam pertumbuhan rohani setelah, “berpikir seperti Kristus” adalah “berbuat seperti Kristus.” Inilah bagian tersulit karena meski kita tahu apa yang baik dan seharusnya namun tidak selalu kita melakukannya. Paulus membagikan pergumulannya ini di Roma 7:21-23, “Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku.” Sebagai contoh, kita tahu tahu bahwa mengkhianati pasangan itu salah namun tetap kita melakukannya. Mengapakah demikian?

Pada dasarnya pikiran dan perbuatan yang berdosa telah menjadi bagian hidup dan kepribadian kita. Pikiran dan perbuatan yang berdosa merupakan sarana untuk mendapatkan yang kita inginkan. Setelah kita mengenal Kristus, kita mesti menanggalkan pikiran dan perbuatan yang berdosa itu dan sebaliknya, mengandalkan Kristus untuk mendapatkan yang kita inginkan itu.

Kita perlu menyeimbangkan kedua hal ini: di satu pihak kita adalah manusia baru dengan pemikiran yang baru namun di pihak lain kita adalah manusia lama yang dalam proses pembaharuan. Pertumbuhan yang sehat menuntut kesadaran akan keduanya.

Pada akhirnya untuk bertumbuh dituntut usaha untuk melawan manusia lama. Kendati tidak mudah, kita harus melawannya. Roma 6:12 berkata, “Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya.”

 

Keadaan ini telah mengingatkan kepada kita firman Tuhan dalam Kolose 3:5-11. Menjadi ciptaan baru di dalam Kristus perlu melalui 4 proses penting dan saya percaya dia telahpun melaluinya.

Manusia lama harus dimatikan (ayat 5). Roma 6:6-7 sangat jelas menyatakan supaya manusia lama kita harus di salibkan supaya kuasa tubuh dosa kita hilang kuasanya. Manusia lama kita perlu mati di dalam Kristus.

Pakaian manusia lama ini perlulah ditanggalkan sebaik saja ianya dimatikan. (ayat 9).

Sebaik saja pakaian lama ini ditanggalkan, kita perlulahmengenakan pakaian rohani supaya kita boleh melawan dan mematahkan serangan-serangan si iblis. Efesus 6:10 membicarakan perlengkapan senjata rohani kita.

Akhirnya kita harus terus-menerus diperbaharui (ayat 10) dan di sinilah letaknya peranan Roh Kudus, Roh Kebenaran yang memimpin kita kepada kebenaran Tuhan (Yohanes 16:13).

 

Kesimpulan

Oleh karena itu perubahan adalah suatu keharusan, perubahan adalah kebutuhan, perubahan adalah keputusan.  Perubahan memang seringkali tidak menyenangkan, bahkan selalu menuntut perjuangan dan pengorbanan, namun perubahanlah satu-satunya sarana efektif menuju ke tahapan kerohanian yang lebih baik sebagaimana yang Allah inginkan. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Hidup kristen bukan sekedar saya cinta Yesus, kekristenan bukan sekedar identitas diri, Kekristenan bukan sekedar kita percaya Tuhan, tetapi bagaimana menjalani hidup sebagai orang Kristen. oleh karena itu setiap sudah percaya Tuhan kita harus berubah menjadi manusia baru. Dan segalah ciri dan sifat manusia lama kita mutlak harus dikuburkan.

MArilah kita menggalkan sifat manusia lama dalam diri kita. Dan kita mengenakan sifat yang baru yang terus menerus diperbaharui.Marilah kita menjadi orang Kristen yang tidak seperti ular yang selalu berganti kulit tetapi hati dan sifatnya tidak pernah berubah. Tetapi kita harus kembali memiliki pembaharuan hidup.Sebagaimana Rasul Paulus katakan dalam Roma 12:2 “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia tetapi berubahlah oleh pembaharuan

budimu, sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah: Apa yang baik dan berkenan kepada Allah dan yang sempurna.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: