niasmeiman


MANUSIA LAMA & MANUSIA BARU MENURUT PAULUS
Desember 2, 2011, 11:32 pm
Filed under: Uncategorized

 

Tugas  Presentasi Kelompok 4

Teres,Meiman M Gulo,Julius Gulo,Destenty Marlianda Zebua

Dosen : Pdt.Orwel S Gulo.

Karena dalam kenyataan sehari-hari setiap orang Kristen mengalami proses jatuh bangun dalam kerohaniannya. Apakah dapat disebut sebagai manusia baru namun masih dapat jatuh dalam perbuatan dosa atau masih bisa melakukan perbuatan-perbuatan kegelapan. Karena orang percaya yang telah dikuduskan secara definitif (status dikuduskan dan dibenarkan) dan juga sedang dalam proses pengudusan progresif, maka sering muncul pertanyaan tentang apakah orang Kristen di satu sisi adalah manusia lama dan di sisi lain adalah manusia baru?
Istilah manusia lama kita temukan dalam Roma 6: 6; Kol. 3: 9; Efe. 4: 22, dan istilah manusia baru dalam Efe. 2: 15, 4: 24; Kol. 3: 10. Dalam ayat-ayat tersebut Paulus mengkontraskan antara sifat manusia lama dan sifat manusia baru serta perbedaan status dan keadaan manusia lama dan manusia baru. Jadi jelas sebetulnya bahwa manusia lama dan manusia baru merupakan aspek yang dapat dibedakan dalam kehidupan orang percaya. Mungkin ada yang berpikir bahwa orang percaya berada dalam kedua natur ini, yaitu sebagai manusia lama dan sebagai manusia baru pada saat bersamaan. Di satu sisi orang pecaya sebagai manusia lama yang telah dibenarkan dan dikuduskan, namun di sisi lain adalah juga manusia lama yang dalam eksistensinya masih bisa melakukan dosa.

Paulus sebetulnya tidak mengajarkan konsep seperti itu, dalam Roma 6: 6-7 dituliskan bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan dan tubuh dosa telah hilang kuasanya, agar orang percaya tidak menghambakan diri lagi kepada dosa. Karena orang yang telah diselamatkan telah mati bagi dosa dan telah bebas dari dosa. Artinya orang Kristen hanya diberikan satu pilihan dan satu hak sebagai orang percaya untuk hidup bagi kebenaran saja dan bukan hidup bagi dosa, dengan kata lain orang Kristen harus hidup sebagai manusia baru dan mematikan manusia lamanya.

John Calvin mengatakan Jika kita telah benar-benar menerima bagian di dalam  kematian Kristus, manusia lama kita telah disalibkan oleh kuasa-Nya, dan tubuh dosa telah binasa dan kerusakan pada manusia lama tidak berperan lagi. Jika kita telah menerima kebangkitan Kristus, olehnya kita telah dibangkitkan kepada hidup yang baru yang selaras dengan kebenaran Allah.   Dalam 2 Kor 5: 7 juga ditegaskan bahwa setiap orang yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru, yang lama sudah berlalu dan yang baru sudah datang. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa orang percaya tidak berada dalam dua status, sebagai manusia lama dan sebagai manusia baru, statusnya adalah benar-benar manusia baru. John Murray (Principle of Conduct) mengatakan bahwa manusia lama adalah manusia yang belum lahir baru, manusia baru sudah lahir baru, sehingga tidak mungkin lagi menyebut orang percaya sebagai manusia lama dan manusia baru. Selain itu Anthony Hoekema (Saved by Grace) menekankan bahwa dengan lahir baru orang percaya telah menerima natur baru sehingga dimampukan untuk hidup menyenangkan Allah. Memang orang percaya masih memiliki natur keberdosaan di mana ia tetap bergumul dengannya dan berusaha untuk menghidupi manusia barunya, namun tidak lagi disebut manusia lama atau orang lama. Manusia lama secara total dikuasai oleh dosa, tetapi manusia baru  seutuhnya sudah berada dalam pimpinan Roh Kudus sekalipun belum dalam kesempurnaan yang sepenuhnya.

Dalam statusnya yang baru orang Kristen bukan lagi sebagai manusia lama, tetapi sebagai manusia baru yang sedang diperbaui terus menerus supaya menjadi semakin serupa dengan Kristus (Roma 8:29). Orang Kristen adalah manusia baru tetapi belum sempurna, kesempurnaan itu hanya akan terjadi dalam pemuliaan yang akan dikaruniakan dalam kedatangan Kristus yang kedua (Roma 8: 30).

Ciri-Ciri manusia Lama

Ciri manusia lama yang pertama, “Pengertiannya gelap”.Atau masih hidup dalam kegelapan. Yang dimaksud dengan pengertian yang gelap disini adalah hidup tanpa arah dan tujuan, tidak mengetahui tujuan hidup, tidak berjalan dalam hikmat dan pengertian ilahi karena itu tindakannya pun gelap, dengan demikian akan menjalani masa depan yang gelap pula, inilah ciri khas orang dunia.

Orang seperti ini bagaikan seorang buta, yang tidak mengetahui kebenaran, dalam menjalani kehidupannya, ia tidak berjalan dalam terang kebenaran.Hidup seakan-akan dalam Tuhan tetapi masih terus hidup dalam kegelapan, hidup terus diperhamba dan dijajah oleh dosa.

Hari-hari ini ada banyak orang yang aktif ke gereja tapi hidupnya masih gelap, karakternya masih seperti karakter orang yang belum mengenal Tuhan, tidak berpikir panjang, gampang emosi, mudah terpancing amarah, gampang memilih jalan pintas, sering mengambil keputusan yang keliru, dan menjadi seorang yang masa bodoh terhadap orang lain.

Saudara ketika Rasul Paulus mengatakan tentang manusia baru ini, Rasul Paulus tidak berbicara kepada orang-orang belum percaya tetapi kepada orang percaya di Efesus, agar mereka tidak hidup dalam pengertian yang gelap.Itu berarti bahwa ada orang-orang sudah percaya Tuhan tetapi hidupnya masih dalam kegelapan. Jadi jika kita masih memiliki pengertian yang gelap, walaupun kelihatan rajin ke gereja, rajin berdoa, rajin baca Alkitab, bahkan sudah terlibat aktif dalam pelayanan itu tidak otomatis bahwa kita sudah menjadi manusia yang baru. Sebab manusia baru pasti sudah hidup dalam terang, bukan dalam kegelapan..

 

Ciri manusia lama yang kedua yaitu, “hidup jauh dari persekutuan dengan Tuhan”.
Apa arti jauh dari persekutuan dengan Tuhan. Orang yang jauh dari persekutuan dengan Tuhan, ia tidak menjadikan Tuhan menjadi pusat hidupnya. Ia tidak memiliki hubungan pribadi yang baik dengan Tuhan.
Ciri-ciri orang seperti ini adalah: Ia tidak pernah berdoa secara pribadi kepada Tuhan, Dia tidak mengandalkan Tuhan dalam hidupnya tetapi dirinya sendiri. Kristus tidak hidup didalam dirinya tetapi dirinya dengan segalah keinginan kedagingan. Orang seperti ini akan sulit menjalani kehidupannya dengan kedamaian, yang ia pikirkan hanya kesenangan-kesenangan dirinya sendiri, dan tidak terpikir olehnya bagaimana nasipnya di kehidupan yang akan datang, karena itu jauh dari pikirannya untuk memiliki jalan keselamatan.

Oleh karena tidak memiliki damai, yang ia cari adalah kesenangan-kesenangan duniawi. Tetapi seorang yang memiliki hubungan baik dengan Tuhan sekalipun ia punya masalah, menghadapi tantangan hal itu tidaklah membuat ia jadi kompromi dengan perkara-perkara duniawi, justru sebaliknya membuat ia semakin mendekatkan diri pada Tuhan. Itulah sebabnya Daud berkata; “hanya dekat Allah saja aku tenang,” orang yang memiliki damai pasti merasa hidupnya dekat Tuhan.

Saudara jikalau dalam hidup kita, kita tidak memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan, maka itu berarti bahwa kita belum menjadi manusia yang baru tetapi manusia yang lama. Orang yang telah hidup baru ia akan selalu memiliki kerinduan untuk dekat dengan Tuhan. JIkalau ia tidak berbicara dengan Tuhan dalam sehari maka dia merasa ada sesuatu yang hilang.

Ciri manusia lama yang ketiga adalah, “Bodoh dan Degil”.

Orang yang sudah mempunyai kehidupan baru, sudah dilahirkan baru, bukan lagi orang bodoh. Namun penger-tian bodoh di sini juga jangan disalah mengerti. Bodoh di sini adalah bodoh secara rohani, bukan matematis. Ini bukan me-nyangkut IQ jongkok atau tidak. Orang yang sangat pintar, ahli matematika, jago fisika, intelek-tual, bisa menjadi orang yang paling bodoh dalam hal pengenalan akan Allah, karena dia akan berkata, “Tidak ada Allah”. Dia menjadi ateis.

Tetapi ketika orang dilahirkan baru, dia punya kemampuan berpikir yang hebat, karena mampu menangkap dan mengerti siapa Allah, dan apa yang menjadi kehendak-Nya. Ini suatu kemampuan berpikir yang sudah diperbaharui Roh Allah dan diberi kemampuan dan kekuatan oleh Roh Allah sehingga dia tidak lagi menjadi bodoh untuk mengenal siapa Allah.
Sekarang dia tahu siapa Allah itu. Orang yang hidup dalam status baru, melihat ke belakang adalah melihat kebencian dan kegelapan. Maka ia selalu berpacu ke depan untuk menjangkau pengharapan yang Tuhan sediakan dia akan selalu berjalan didalam iman

 

Ciri manusia baru

Orang Kristen adalah orang yang tidak pernah berhenti belajar untuk mengenal Tuhan dan pengajaran di dalam Dia. Di dalam Fil 3:10, rasul Paulus menghendaki supaya ia semakin mengenal Kristus di dalam hidupnya.

Jadi, jangan berhenti untuk belajar mengenal Kristus dan kebenaran-Nya, karena ini adalah fondasi yang sangat penting di dalam iman Kristen. Jika tidak, kita tidak akan memiliki dasar yang benar, dan terombang-ambing di dalam pengajaran yang salah. Sebab tidak semua hal yang baik itu adalah benar.

 
Contoh : ajaran sesat selalu memperkenalkan diri sebagai ajaran yang baik, padahal isi pengajarannya penuh kesesatan. Tetapi semua yang benar pasti baik. Tentunya baik menurut Tuhan bukan baik menurut manusia.

Setelah lahir baru bukan berarti otomatis sudah sempurna, karena itu kita harus mau belajar. Kita belajar akan sifat Kristus, belajar sabar, belajar mengasihi, belajar mengampuni, belajar setia, belajar untuk dengar-dengaran kepada perintah Tuhan, belajar untuk menguasai diri, belajar menahan diri dari kemarahan dlsb, seperti yang dikatakan Rasul PAulus dalam ayt 25-32) Proses kita belajar bahkan sampai dapat serupa dengan Kristus.2 Ayat 21; Ciri manusia baru yang kedua, “Mendengar dan Menerima”.Saudara apa yang didengar dan apa yang diterima, yang dimaksud disini adalah bahwa Orang Efesus dan juga kita sudah mendengar tentang Kristus dan menerima ajaran Yesus.

Hal ini berbicara tentang sifat dan kehidupan Kristus, dimana Yesus telah memberi contoh dan teladan bagaimana kehidupan di dunia ini. Bgm Yesus meresponi perlakuan orang terhadap dirinya. Ketika ia difitnah Ia mengampuni, dia diperlakukan dengan tidak adil Ia tetap sabar.

Demikian juga dengan manusia baru Ketika difitnah ia terima dan bahkan dapat mengampuni, tetapi manusia lama tidak dapat menerima bahkan akan menuntut. Bagi yang dapat menerima pada akhirnya akan selalu dipuaskan, tetapi seorang penuntut pada akhirnya akan kecewa dan memberontak. Banyak orang hari-hari ini hanya bisa menuntut dan susah untuk menerima dan bersyukur.

Banyak orang bisa bersyukur ketika hidupnya tidak masalah, tidak pergumulan, tetapi pergumulan menghadang dirinya ia tidak dapat mengucap syukur. Dia tidak dapat mengatakan Tuhan itu baik, tetapi sebaliknya.

Saudara sebagaimana istri Ayub, ketika hidup Ayub dan keluarganya berlimpa kekayaan dan berkat ia dapat mengucap syukur kepada Allah dan mengatakan Tuhan itu baik, tetapi ketika Ayub ditimpa malapetaka dan pergumulan yang berat . Ayub jatuh miskin, mendapat sakit penyakit…Ia katakan kepada Ayub kutuklah Allahmu, dan matilah.

Saudara orang yang telah menjadi manusia baru, ia dapat menerima semua yang dialami didalam hidupnya dengan penuh syukur, karena dia mengetahui bahwa Tuhan itu baik, dan Tuhan tidak akan merancangkan hal-hal yang jahat bagi anak-anakNya.Orang yang telah menjadi manusia baru dia selalu meneladani sifat-sifat Kristus, dan menjadi sama seperti Kristus
Tantangan perubahan 

 

Mungkin banyak orang Kristen bertanya, apakah sesudah Kristen, Allah menghendaki perubahan total? Tentu saja jawabannya adalah ya, namun apakah mungkin seseorang dapat berubah secara total? Jawabannya juga adalah ya! Seperti tertulis dalam Efesus 4: 22-24: yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.

 

Proses inilah yang kita sebut sebagai progressive sanctification, di mana secara bertahap dalam seluruh aspek kehidupan seorang Kristen mengalami pertumbuhan secara konstan dan konsisten (secara pasti semakin baik). Perubahan ini tidak dapat dikerjakan dengan usaha orang Kristen itu sendiri, karena sesungguhnya tidak seorang pun sanggup memenuhi tuntutan kebenaran Allah dengan usahanya sendiri.

Hanya pertolongan Roh Kudus yang sanggup memampukan orang Kristen untuk hidup dalam ketaatan kepada Allah dan Firman-Nya (2 Kor 3:8). Namun mengalami perubahan ini tentu bukanlah sesuatu yang dapat terjadi secara instan dan mudah, kebanyakan orang tidak mampu berubah secara total dalam hidupnya. Mungkin dengan kata lain, kebanyakan orang tidak bersedia membayar harga perubahan itu. Ada beberapa faktor penyebabnya: per-tama, karena perubahan itu seringkali tidak mengenakkan dan tentu sangat tidak nyaman. Kedua, perubahan adalah sebuah proses yang penuh pengorbanan, untuk itu diperlukan ketabahan, ketekunan dan kesabaran dan memakan waktu. Terkadang baru bertahun-tahun kemudian kita bisa mendapatkan hasil perubahan yang kita inginkan. Ketiga, perubahan bisa menjadi sumber konflik baru bagi diri sendiri maupun dengan orang-orang di sekitar kita.

Perubahan selalu mengakibatkan krisis (disequilibrium) tetapi jika diteruskan dengan kesungguhan dan ketaatan kepada Allah akan memberikan hasil yang nyata. Menjadi manusia baru ditandai oleh proses pertumbuhan yang jelas pada perubahan sikap dan tingkah laku sehari-hari. Meski banyak manusia yang tidak menyukai perubahan,  namun perubahan adalah satu-satunya penentu dan  sumber kemajuan kerohanian dan kepribadian seseorang. Perubahan seperti apa yang bisa memberikan kemajuan yang berarti? Yang jelas, perubahan yang dimulai dari diri sendiri, dengan membuat langkah-langkah perubahan (action) yang jelas dan dengan kemauan yang kuat dan tak terbendung.

Alkitab mengajarkan tentang perubahan kepada kita dalam Roma 12: 2; Filipi 4: 8; Matius 7:12, yang mencakup perubahan pada: (1) Cara Berpikir & Keyakinan, dengan mengubah cara berpikir akan mengubah keyakinan, oleh karena itu setiap manusia baru harus memikirkan segala sesuatu dalam persfektif yang baik dan benar seperti tertulis dalam Filipi 4: 8 dan Roma 12: 2; (2) Perubahan pada kata-kata, perubahan pada cara berbicara dan berkata-kata dapat mengubah banyak hal dalam relasi seseorang dengan yang lain. Kata-kata yang lemah lembut, kata-kata yang positif dan membangun serta menguatkan sangat diperlukan oleh setiap orang dan sangat memberkati orang lain; (3) Perubahan pada sikap dan tingkah laku, yang akan menghasilkan perubahan pada hidup. Setiap orang sering tanpa sadar memilih pola tingkah laku tertentu dan melakukan tindakan-tindakan tertentu sebagai suatu kebiasaan. Namun kalau pola (kebiasaan) itu adalah tingkah laku yang tidak baik, maka harus diubah menjadi satu tingkah laku (kebiasaan) yang baru seperti tertulis dalam Efesus 4: 28-32.

 

Oleh karena itu perubahan adalah suatu keharusan, perubahan adalah kebutuhan, perubahan adalah keputusan. CS. Lewis berkata: Perubahan sementara bukanlah pertumbuhan, pertumbuhan adalah sintesis dari perubahan dan kontinuitas, dimana tidak ada kontinuitas, berarti tidak ada perubahan. Perubahan memang seringkali tidak menyenangkan, bahkan selalu menuntut perjuangan dan pengorbanan, namun perubahanlah satu-satunya sarana efektif menuju ke tahapan kerohanian yang lebih baik sebagaimana yang Allah inginkan. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.(Roma 12:2).

siapakah manusia baru dalam Kristus itu?

Manusia baru dalam Kristus itu adalah manusia yang telah mengalami pencerahan spiritualitas yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Bukan manusia lama yang masih terikat ritual-ritual agamawi sebagai pusat spiritualitasnya, atau manusia lama yang terikat dengan keinginan-keinginan daging (Galatia 5:19), tapi manusia baru yang telah dan terus belajar mengenal Kristus (Efesus 4:20). Pengenalan akan Kristus itu bukan berbasis kognitif yang semata-mata intelektual tapi pengenalan yang berbasis keintiman (intimacy),kontemplatif, dan aplikatif. Pusat spiritualitasnya adalah Kristus sebagai Guru Agung Karakter, Tuhan dan Juruselamat Pribadi.

Menjalani hidup untuk Kristus adalah tujuan hidup seorang manusia baru ( 2 Korintus 5:15). Hidup adalah Kristus mati adalah untung, kata Rasul Paulus. Bahkan salah satu tujuan hidup seorang manusia baru adalah mengembangkan karakternya menjadi seperti Kristus. Kesulitan, kegagalan dan tantangan dalam kehidupan dianggap sebagai proses pembelajaran sebagai murid Kristus.Ukuran seorang manusia baru bukan ukuran lahiriah tapi batiniah ( 2 Korintus 5:12). Begitu juga paradigma manusia baru adalah paradigma batiniah. Kacamata rohaninya lebih tertuju kepada apa yang tidak kelihatan bukan yang kelihatan, yang fana itu.

Orientasi manusia baru ke depan adalah kekekalan. Kekekalan yang bukan dimulai setelah matinya tubuh tapi kekekalan yang dimulai saat Kristus lahir di hati, kekekalan yang dirasa sejak kini bukan kelak semata ( Yohanes 3: 15-36).

MANUSIA BARU

Setiap orang Kristen pasti pernah bergumul dengan dosa yang ada pada dirinya. Kita tahu tidak seharusnya kita berdosa namun kita tetap melakukan perbuatan yang sama. Ada yang terus bergumul dengan emosi marah; tidak mau marah namun toh marah. Ada yang bergumul dengan dosa berbohong; kita tahu itu salah, tetap saja kita mengulangnya. Ada yang bergumul dengan dosa seksual; kita ingin lepas tetapi terus melakukannya. Kita merana dan ingin bebas tetapi masih terbelenggu oleh dosa yang sama. Kadang kita bertanya-tanya, di manakah kebenaran ayat yang berbunyi, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17) Apakah artinya ayat ini?

Roma 12:2 berkata, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Efesus 4:23-24, “supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu dan mengenakan manusia baru yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” Kata, “budi” di Roma 12 berarti pikiran; jadi, dari dua ayat ini dapat kita simpulkan bahwa perubahan mesti terjadi pertama-tama pada pemikiran. Dengan kata lain, manusia baru di dalam Kristus adalah manusia yang berpikir seperti Kristus.

Bagian berikutnya dalam pertumbuhan rohani setelah, “berpikir seperti Kristus” adalah “berbuat seperti Kristus.” Inilah bagian tersulit karena meski kita tahu apa yang baik dan seharusnya namun tidak selalu kita melakukannya. Paulus membagikan pergumulannya ini di Roma 7:21-23, “Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku.” Sebagai contoh, kita tahu tahu bahwa mengkhianati pasangan itu salah namun tetap kita melakukannya. Mengapakah demikian?

Pada dasarnya pikiran dan perbuatan yang berdosa telah menjadi bagian hidup dan kepribadian kita. Pikiran dan perbuatan yang berdosa merupakan sarana untuk mendapatkan yang kita inginkan. Setelah kita mengenal Kristus, kita mesti menanggalkan pikiran dan perbuatan yang berdosa itu dan sebaliknya, mengandalkan Kristus untuk mendapatkan yang kita inginkan itu.

Kita perlu menyeimbangkan kedua hal ini: di satu pihak kita adalah manusia baru dengan pemikiran yang baru namun di pihak lain kita adalah manusia lama yang dalam proses pembaharuan. Pertumbuhan yang sehat menuntut kesadaran akan keduanya.

Pada akhirnya untuk bertumbuh dituntut usaha untuk melawan manusia lama. Kendati tidak mudah, kita harus melawannya. Roma 6:12 berkata, “Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya.”

 

Keadaan ini telah mengingatkan kepada kita firman Tuhan dalam Kolose 3:5-11. Menjadi ciptaan baru di dalam Kristus perlu melalui 4 proses penting dan saya percaya dia telahpun melaluinya.

Manusia lama harus dimatikan (ayat 5). Roma 6:6-7 sangat jelas menyatakan supaya manusia lama kita harus di salibkan supaya kuasa tubuh dosa kita hilang kuasanya. Manusia lama kita perlu mati di dalam Kristus.

Pakaian manusia lama ini perlulah ditanggalkan sebaik saja ianya dimatikan. (ayat 9).

Sebaik saja pakaian lama ini ditanggalkan, kita perlulahmengenakan pakaian rohani supaya kita boleh melawan dan mematahkan serangan-serangan si iblis. Efesus 6:10 membicarakan perlengkapan senjata rohani kita.

Akhirnya kita harus terus-menerus diperbaharui (ayat 10) dan di sinilah letaknya peranan Roh Kudus, Roh Kebenaran yang memimpin kita kepada kebenaran Tuhan (Yohanes 16:13).

 

Kesimpulan

Oleh karena itu perubahan adalah suatu keharusan, perubahan adalah kebutuhan, perubahan adalah keputusan.  Perubahan memang seringkali tidak menyenangkan, bahkan selalu menuntut perjuangan dan pengorbanan, namun perubahanlah satu-satunya sarana efektif menuju ke tahapan kerohanian yang lebih baik sebagaimana yang Allah inginkan. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Hidup kristen bukan sekedar saya cinta Yesus, kekristenan bukan sekedar identitas diri, Kekristenan bukan sekedar kita percaya Tuhan, tetapi bagaimana menjalani hidup sebagai orang Kristen. oleh karena itu setiap sudah percaya Tuhan kita harus berubah menjadi manusia baru. Dan segalah ciri dan sifat manusia lama kita mutlak harus dikuburkan.

MArilah kita menggalkan sifat manusia lama dalam diri kita. Dan kita mengenakan sifat yang baru yang terus menerus diperbaharui.Marilah kita menjadi orang Kristen yang tidak seperti ular yang selalu berganti kulit tetapi hati dan sifatnya tidak pernah berubah. Tetapi kita harus kembali memiliki pembaharuan hidup.Sebagaimana Rasul Paulus katakan dalam Roma 12:2 “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia tetapi berubahlah oleh pembaharuan

budimu, sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah: Apa yang baik dan berkenan kepada Allah dan yang sempurna.



Dosen Di STTPB
Desember 2, 2011, 4:38 pm
Filed under: Uncategorized

Penyelenggara Pendidikan
SINODE GEREJA SUNGAI YORDAN (SGSY)
Pdt. Dr. Paul S. Halim.
Asisten Ahli IIIa
Ketua Sinode Gereja Sungai Yordan
Ketua Kehormatan STT Pelita Bangsa
Pdt. Orwel S. Gulo, M.Th.
Asisten Ahli IIIb – NIDN 0329036405
Ketua STT Palita Bangsa Jakarta
Halim Wiryadinata, M.Th., MM.
Asisten Ahli IIIb
Puket I STT Palita Bangsa Jakarta
Pdt. Handreas Hartono, SE., S.Th.
Asisten Ahli IIIa
Puket II STT Palita Bangsa Jakarta
Pdt. Yosi Christianty, S.Th.
Asisten Ahli IIIa
Puket III STT Palita Bangsa Jakarta
Pdt. Dony Surlaya, S.Th.
Kaprodi Teologi
Simon M. Tampubolon, MACE.
Kaprodi PAK
Yosua Tjandrawinata Tjan, Ph.D.
Kaprodi S2
Staff Dosen
1. Pdt. Dr. Paul S. Halim.
2. Pdt. Orwel S. Gulo, M.Th. (Studi S3)
3. Pdt. Yoshua Chriswinata Tjan, Ph.D.
4. Pdt. Marthinus Thomas Leiwakabessy, D.Min.
5. Pdt. Freddy Suyapto, Ph.D. (Perjanjian Lama)
6. Halim Wiryadinata, M.Th., MM.
7. Pdt. Dony Surlaya, S.Th. (Studi S2-Teologi)
8. Pdt. Handreas Hartono, S.Th. (Studi S2-PAK)
9. Pdt. Yosi Christianty, S.Th. (Studi S2-PAK)
10. Ruminingsih, S.PAK. (Studi S2-PAK)
11. Simon M. Tampubolon, MACE
12. Pdt. Nathanwel Heru Susanto, M.Div.
13. Pdt. Hendy Tan, MA.
14. Pdt. Dwi Susanto, D.Min.
15. Festus Gunawan, M.Div.
16. Lily Arifin. MA.
17. Pdt. Nasokhili Giawa, M.Th.
18. Pdt. Hondy Panjaitan, MA.
19. Darwin Australia, M.Hum.
20. Pdt. Mika Sulistiono, D.Th.
21. Dr. Debora Malik.
22. Johny Yahya Sedi, Ph.D.
23. Pdt. Dominggus S. Naat, Ph.D.
24. Pdt. Sochiwolo’o Ndruru, D.Th.
25. Pdt. Jannes Edward Sirait, D.Th.
26. Pdt. Osna Baringbing, MA.
27. Pdt. Juliman Harefa, M.Th.
28. Bernike Sihombing, MABS
29. Heri Sihaloho, M.Div.



Cinta dan Persahabatan Yang Sejati
Desember 2, 2011, 4:04 pm
Filed under: Uncategorized

 

PENGANTAR

Dalam kehidupan bersama cinta dan persahabatan sangat penting dan selalu berkaitan satu terhadap yang lain. Relasi keduanya menyertai hidup manusia. Relasi ini selalu memiliki dua aspek. Pertama, relasi itu saling menguat artinya saling melengkapi, membangun dalam kehidupan bersama. Kedua, relasi itu diwarnai dengan suatu sikap yang dangkal. Dalam relasi ini tidak ada saling menguat atau tidak ada hubungan timbal balik, yang ada hanya mencari keuntungan sepihak yang disertai dengan kecurigaan, kekerasan dan pemaksaan kehendak bahkan saling membunuh satu terhadap yang lain. Relasi ini tidak akan dibahas dalam tulisan ini.

Tulisan ini menyajikan satu model persahabatan dan cinta yang sejati yang mewarnai setiap manusia beriman (para murid Kristus), serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari yang membawa setiap insan beriman untuk memahami arti persahabatan dan cinta sejati. Apabila dalam keseharian, relasi ini dihidupi maka relasi itu akan menghidupkan, indah dan akhirnya mampu menata kehidupan bersama.

CINTA

Dalam masyarakat banyak orang yang berkurban kepada orang lain ha-nya karena cinta terhadapnya. Bahkan orang mati demi cinta itu. Tulisan ini membahas secara gamblang arti cinta itu dalam beberapa aspek mendasar yang sering dialami oleh manusia.

Pertama, cinta itu menerima setiap orang apa adanya. Setiap orang adalah unik artinya punya kekhasannya sendiri yakni memiliki beberapa perbedaan dan kemiripan, tetapi juga ada kesamaan untuk saling melengkapi. Jika setiap orang memahami dengan baik perbedaan tersebut maka relasi itu akan menjadi sangat berkembang. Relasi cinta diandaikan perlu saling belajar untuk mengakui kebaikan, kekurangan yang dimiliki seseorang. Dalam konteks hidup bersama justru saling menguat bila menerima dan mengakui keunikan tersebut.

Kedua, cinta itu berkurban. Artinya merelakan segalanya untuk orang yang dicintai.Seseorang yang saling mencintai akan berkurban untuk kepentingan atau kebaikan orang yang dicintainya. Ia menyediakan waktu, tenaga bahkan pengetahuan yang dimiliki untuk orang yang dicintainya. Salah satu contoh, Seorang ayah akan mengurbankan waktu, tenaga, untuk bekerja demi kelangsungan hidup keluarganya. Dia melakukan atas dasar cinta, rasa tanggung jawab, dengan hati yang tulus tanpa paksaan pihak manapun. Dia berkurban semata-mata karena mencintai anak dan istrinya. Apabila dilakukan dalam, demi dan karena cinta maka pekerjaan seberat apapun akan dijalankan dengan senang hati, dedikasi yang tinggi. Seperti Kristus yang mengorbankan hidup-Nya untuk orang yang dicintainya. Dia menghabiskan hidup-Nya agar manusia memperoleh kehidupan. Apakah para pengikut Kristus menyediakan waktu dan tenaga untuk orang lain? Pernahkah mendoakan orang-orang yang sedang menderita sakit, kelaparan bahkan mendoakan musuh sekalipun? Bagi para religius, sudahkah menyediakan waktu dan tenaga untuk melayani dan membantu orang yang kehilangan iman, yang sedang mencari Allah? Pernahkah berpikir untuk membawa mereka kembali pada Tuhan? Cinta yang berkurban justru berusaha untuk mengangkat orang lain dan membawa mereka pada kebaikan.

Ketiga, cinta itu memberikan diri secara total, artinya hidup seluruhnya kepada orang yang dicintai. Manakala seseorang memiliki cinta yang tidak total atau menyeluruh dan setengah-setengah maka cinta itu akan dilunturkan oleh tantangan, godaan dan pengaruh dari pihak manapun. Akan tetapi sebaliknya, manakala cinta itu total akan membahagiakan dan menguntungkan. Cinta semacam ini tidak memperhitungkan kepentingan dirinya, yang penting orang yang dicintai selamat. Bukti yang sangat nyata adalah Tuhan Yesus. Dia memberikan diri sepenuhnya untuk menyelamatkan manusia. Tanpa ada jasa sedikitpun dari manusia, tanpa memperhitungkan apakah manusia itu baik atau tidak. Yesus rela menderita sengsara, disiksa dengan keji sampai wafat di salib semuanya itu karena mencintai manusia. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16) Cinta Allah yang tidak terbatas terhadap manusia ciptaan-Nya terbukti dalam diri Tuhan Yesus. Seandainya Yesus tidak mati maka manusia akan mengalami kematian kekal. Konsekuensinya sangat besar yakni soal hidup dan mati.

Hendaklah setiap orang Kristen mestinya bersyukur atas kasih Allah yang luar biasa dahsyat ini. Selayaknya setiap saat orang Kristen belajar bersyukur dan terus meneladani cinta Yesus yang total terhadap sesama. Belajar untuk hidup tidak hanya untuk memikirkan kepentingan pribadi, tetapi lebih dari itu, belajar juga untuk hidup bagi kepentingan orang lain. Semuanya atas dasar cinta.

Contoh; Kaum religius yang membaktikan diri secara khusus pada Yesus. Mereka yakin bahwa rahmat Allah yang menyebabkan mereka mencintai Yesus secara total. Hidup dibaktikan kepada Yesus. Penghayatan atas cara hidup ini lahir dari cinta yang bebas dan total maka penghayatan selanjutnya akan nampak dalam pelayanan mereka kepada umat. Jika kita melayani atas dasar cinta yang total maka akan membawa umat untuk lebih dekat pada Tuhan. Sebaliknya apabila pelayanan itu tidak total maka tidak membuahkan hasil. Menarik kalau menyimak kehidupan pastor dari Ars (St. Yohanes Maria Vianney). Dia adalah orang yang sangat sederhana, kemampuan intelektual tidak menonjol, tetapi ia memiliki cinta yang total kepada Yesus. Dan sangat mengagumkan karya pelayanannya membawa banyak orang untuk bertobat dan memiliki cinta yang mendalam terhadap Yesus.

PERSAHABATAN

Relasi persahabatan hampir dialami oleh setiap orang. Persahabatan itu sangat beragam ungkapannya tergantung pada perspektif setiap orang. Namun kalau dicermati dengan baik persahabatan bukan sekedar relasi saya dan kamu, tetapi persahabatan itu mempunyai perspektif yang universal. Persahabatan merupakan relasi antara pribadi yang sungguh-sungguh mengenal orang yang kita hadapi. Pengenalan yang dimaksud bukan hanya sebatas mengenal secara lahiriah, tetapi yang lebih penting adalah mengenal seseorang dari kedalaman hati yang terdalam. Relasi itu memuat ketulusan dan kejujuran, kesetiaan dalam segala hal terutama di kala menghadapi persoalan dalam persahabatan tersebut. Persahabatan sejati justru teruji dalam menghadapi tantangan yang berat.

Relasi itu diandaikan mengenal dengan baik kelemahan atau kekurangan yang dimiliki seseorang. Menyadari bahwa setiap orang tidak ada yang sempurna dalam hidup ini. Jika demikian maka lahirlah sikap saling pengertian. Dalam ulasan singkat ini penulis mencoba menampilkan beberapa pengertian yang mungkin membantu setiap pembaca sebagai suatu acuan dalam menjalin persahabatan yang baik.

Pertama, persahabatan itu menyambut siapa saja. Artinya menerima siapa saja yang datang atau yang kita jumpai. Bahkan menyambut orang yang tidak kenal dengan hati yang iklas dan bersikap positif serta menghindari prasangka buruk terhadapnya. Ketika Sri Paus berbicara dihadapan ribuan kaum muda Muslim, Sri Paus tidak mewartakan Injil saat itu, tetapi dia tampil sebagai sosok yang mengedepankan persaudaraan, bahwa kita semua apa pun agama dan sukunya kita lahir dari satu keturunan yakni anak-anak Abraham. Jika demikian selayaknya kita hidup dalam kesatuan dan kedamaian. Mereka menyambut kehadiran Sri Paus sebagai figur pemersatu. Dan Sri Paus menyambut siapa saja yang ingin berdialog atau yang ingin mendengarkan dia.

Kedua, persahabatan itu bercahaya didepan orang lain. Orang yang bersahabat memancarkan sinar terang pada wajahnya, ekspresi yang gembira, sukacita. Terang juga bisa diartikan penuntun di kala orang lain mengalami kesulitan, kegelapan hidup dan kebingungan atas persoalan. Terang juga berarti membawa pengetahuan baru, bergunabagi orang lain. Ekspresi yang ceria, sukacita dan kegembiraan bukan yang bermalasan. Lebih dari itu membawa terang bagi orang yang tersesat dan kehilangan arah hidup.

Ketiga, persahabatan itu memesona. Memesona bukan hanya soal penampilan, tetapi kehadiran seorang pribadi yang matang. Kehadiran pribadi yang sungguh-sungguh baik dan menarik semua orang karena kebaikan yang terpancar lewat sikap dan tindakannya. Sikap yang tidak berubah dalam kelembutan, keramahan yang tulus dan senyum yang iklas. Singkatnya, segala sikap dan perbuatan kita yang baik, membawa berkat bagi orang lain. Misalnya, kehidupan seseorang yang selalu menolong orang lain dan rela membantu dalam kesulitan. Juga perbuatan konsisten, tegas dan gigih dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Segala kebaikan itu menggugah hati banyak orang yang meneladani perbuatannya.

Singkatnya kebaikan, keramahan, tingkah langkah yang baik dan segala pelayanan yang tulus dan ikhlas akan menarik orang untuk belajar dan mengikuti jejaknya. Salah satu contoh aktual yakni Sri Paus Yohanes Paulus II (Almarhum). Dalam upacara pemakamannya para tokoh agama dan beberapa pemimpin negara menghadiri upacara tersebut, meskipun tidak menganut keyakinan yang sama. Mengapa mereka rela hadir dalam upacara tersebut? Jawabannya adalah semangat kesatuan dan persaudaraan universal yang sangat kental dalam diri Sri Paus. Mata seluruh dunia tertuju kepadanya dan dunia berduka ketika mengenang segala kebaikan yang dilakukannya.

Keempat, persahabatan itu menyelamatkan dan menghidupkan. Persahabatan dalam arti ini yakni kehadiran pribadi yang mampu membawa kebahagiaan bagi orang sekitar. Dia sungguh menjadi andalan bagi orang lain. Misalnya, ketika orang berada dalam bahaya banjir, dia hadir sebagai penolong, ketika orang berada dalam kelaparan dia hadir untuk memberi makan, dan lain-lain. Persahabatan yang menyelamatkan mampu menghubungkan kembali suatu kelompok yang sudah mulai terputus atau tidak ada harapan untuk rukun membali. Kehadiran seorang sahabat mampu menyatukan kembali, memberikan semangat serta memulihkan segala peristiwa yang terjadi. Persahabatan itu juga menyegarkan iman yang sudah mulai layu, rontok atau gugur karena ilah-ilah zaman. Hal yang lebih menarik adalah persahabatan Yesus yang mempunyai dampak positif bagi orang yang dijumpai-Nya. Dalam pelayanan seringkali Yesus menyembuhkan orang yang sakit. Mempertobatkan orang-orang yang berdosa seperti Maria Magdalena. Dan banyak hal lain yang dilakukan Yesus maka teladan Yesus ini menjadi contoh sekaligus tugas bagi orang Kristen. “Kamu adalah sahabat-Ku jikalau kamu melakukan perintah-perintah-Ku”(Yoh 15:14). Dalam sabda ini sangatlah jelas bahwa yang menjadi sahabat-sahabat Yesus adalah orang-orang yang sungguh-sungguh menjalankan perintah Tuhan. Mereka mengenal Tuhan yang penuh kasih, yang menjaga, memelihara se-luruh hidup mereka.

Pengarang buku-buku sahabat-sahabat Yesus mengisahkan dengan baik mengenai kehidupan para kudus. Siapakah mereka itu? Mereka adalah orang yang sungguh-sungguh mencintai Yesus dan menyerahkan diri seutuhnya kepada-Nya. Mereka sangat dekat dengan Yesus dan orang-orang biasa seperti manusia umumnya. Mereka menjalankan persahabatan dengan Yesus sambil membuka hati, setia dan tekun mere-nungkan firman Tuhan dan dalam doa yang tidak kunjung henti. Mereka layak disebut sebagai sahabat-sahabat Yesus.

BAGAIMANA DENGAN KITA?

Kita juga akan menjadi sahabat-sahabat Yesus kalau kita hidup dalam iman, tekun dalam merenungkan firman Tuhan, setia dalam doa dan mempraktikkan dalam hidup yang nyata. Persahabtan itu menjadi indah, kuat dan menghasilkan buah yang nyata jika dilakukan dalam Tuhan, karena ini yang berkenan pada-Nya. Meskipun kita tidak diangkat menjadi kudus, tetapi memperoleh kebahagian dalam hidup dan mengalami kehadiran Tuhan secara nyata dalam hidup.

HUBUNGAN PERSAHABATAN DAN CINTA

Cinta merupakan dasar kekuatan dan tumpuan dari persahabatan yang sejati. Persahabatan tidak bertahan karena tidak menghadirkan cinta. Karena itu cinta dan persahabatan mempunyai relasi yang erat, tetapi dasarnya adalah cinta. Kalau orang memiliki cinta yang total maka dalam persahabatan pun akan semakin baik dan bertumbuh dengan baik. “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawa-Nya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13). Yesus telah menunjukan suatu model persahabatan yang sejati. Bersahabat berarti memberikan nyawa untuk sahabatnya.

KESIMPULAN

Dalam mencintai perlu suatu pengorbanan, sikap menerima dan memahami orang lain tidak hanya aspek lahiriah saja, tetapi melihat secara menyeluruh. Apabila persahabatan berdiri atas cinta yang sejati maka persahabtan itu akan menjadi lebih baik dan pasti bertumbuh dalam kehidupan bersama. Cinta dan persahabatan sejati tidak memandang perbedaan apa pun, tetapi menyatukan semua pihak yang ingin bersahabat. Semuanya akan teruji dan terbukti ketika orang mulai berelasi dengan sesamanya. Semakin besar cinta maka persahabatan itu semakin kuat dalam kehidupan bersama.

 



Jangan Pernah Menyerah
Desember 2, 2011, 3:47 pm
Filed under: Uncategorized

 

Apapun masalah kita hari ini
Ingat satu hal jangan pernah menyerah

Apapun rintangan kita hari ini
Ingat satu hal kita harus tetap bertahan

Karena badai yang menghantam kita pasti akan berlalu dan saat itu juga mentari akan bersinar dengan terang di hidup kita

Karena kita percaya Tuhan masih ada
Masih ada di hidup kita
Masih ada di hati kita
Dia selalu menjaga kita
Dia selalu setia dekat dgn kita

Satu hal yang kita tahu Dia adalah Allah yang hidup dan tidak pernah meninggalkan kita sedetik pun

Jadi cara kita cuma “1”, ayo kita Tinggikan nama Yesus, karena namaNya besar.

Tuhan Memberkati and Keep Winning!!!



Jangan Rusak Kesetiaan
Desember 2, 2011, 3:39 pm
Filed under: Uncategorized

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESETIAAN merupakan komitmen yang tak bisa dirusak dengan mudah. Setia berarti menepati semua komitmen seumur hidup. Jadi, jangan pernah berjanji bila Anda tak mampu menepatinya. Meski setia merupakan kata yang mudah diucapkan, tapi menepatinya tak semudah yang dikatakan.
Jika Anda setia pada pasangan Anda dan suatu hari pasangan Anda mengalami kecelakaan yang membuat dia cacat, tidak berarti bahwa Anda boleh mencari seseorang yang lebih baik. Jika Anda berkomitmen pada hubungan Anda dan ternyata pasangan Anda tiba-tiba gagal dengan bisnisnya, tidak berarti bahwa Anda harus mencari seseorang yang lebih kaya.

Setiap situasi datang silih berganti untuk menguji kesetiaan Anda. Di beberapa negara, hukum memperbolehkan untuk menceraikan pasangan Anda jika pasangan Anda mulai stres atau bahkan gila. Tetapi banyak orang setia di sana yang memutuskan untuk tetap bertahan bersama pasangannya bahkan ketika pasangannya mulai gila.

Setiap hubungan bersandar pada kebenaran dan kepercayaan. Jika suatu hubungan dimulai dengan kebohongan, maka hubungan itu tidak dapat dipertahankan. Karena fondasinya adalah kebohongan. Bagaimana sebuah kebenaran dapat tumbuh dari sebuah benih kebohongan? Hal pertama yang dibutuhkan dalam sebuah hubungan adalah kejujuran dalam semua aspek. Membodohi pasangan Anda supaya percaya pada kebohongan Anda adalah dosa.

Ketika Anda sudah memutuskan dan berkomitmen untuk setia, seharusnya Anda tidak mempunyai alasan untuk mengingkarinya. Dengan mengingkari komitmen Anda, Anda dapat menyakiti pasangan Anda yang sudah terlanjur percaya pada Anda.

Tetapi yang lebih menyakitkan adalah Anda akan menyakiti diri Anda sendiri dengan menjadi tidak setia dan tidak dapat diandalkan. Anda akan kehilangan harga diri Anda. Cinta dan kesetiaan berjalan beriringan. Bagaimana Anda berkata cinta pada pasangan Anda tetapi Anda tidak setia? It’s impossible.

Mencintai dan dicintai adalah suatu anugerah. Mengingkari komitmen untuk setia adalah dosa yang melawan kebaikan dan Tuhan. Jika dalam suatu kesempatan, Anda atau pasangan Anda mengingkari kesetiaan dengan berselingkuh, yang lain harus mengakui dan mau memaafkan.

Tetapi akankah hubungan Anda tetap sama seperti sebelum Anda berselingkuh? Jawabannya tentu tidak! Kecuali kalau Anda beruntung memiliki seorang pasangan yang luar biasa pemaaf dan sabar, hubungan tidak akan pernah sama. Lebih baik Anda selalu menjadi orang yang jujur dan setia. Ada baiknya sebelum Anda mencoba berkomitmen pada pasangan Anda, cobalah berkomitmen pada diri Anda sendiri. Berkomitmen pada hal-hal kecil akan membuat Anda dapat berkomitmen pada hal yang lebih serius.



SEORANG PEMIMPIN YANG BAIK
Desember 2, 2011, 3:19 pm
Filed under: Uncategorized

BAB I

PENDAHULUAN

Dalam suatu kepemimpinan seorang hamba Tuhan,penulis membahas tentang  bagaimana seorang hamba Tuhan itu memimpin jemaat yang  lebih baik.di dalam kepemimpinan seorang hamba Tuhan  banyak hal  atau cobaan yang dialami baik dalam pelayanan maupun dalam situasi apapun ,penulis juga berpendapat bahwa kita sebagai seorang hamba Tuhan harus kita ketahui cara-cara memimpin jemaat yang lebih baik.

Manusia harus kembali kepada Allah di dalam Yesus Kristus dan menjadi manusia baru untuk untuk hidup kembali dalam segala berkatNya yang berkelimpahan,Tuhan Yesus memanggil kepada tiap orang “ Ikutlah Aku maka Aku akan menjadikan kamu penjala orang ( Mat 4:19) Tuhan Yesus saja yang berkuasa untuk member pekerjaan kepada orang yang percaya kepadaNya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

SEORANG PEMIMPIN  MENCIPTAKAN PERUBAHAN YANG

POSITIF

            Mengubah pemimpin,mengubah organisasi. Segala hal bangkit dan jatuh karena kepemimpinan! Walaupun demikian,saya telah mendapatkan bahwa tidak mudah mengubah pemimpin.pada kenyataanya,saya telah mengetahui bahwa pemimpin menolak perubahan sama seperti  pengikut.Akibatnya? pemimpin yang tidak berubah sama dengan organisasi yang tidak berubah.

  1. a.      Profil Seorang Pemimpin Dalam kesulitan

Diperhatikan bahwa dari dua belas titik kesulitan yang didafatar dibawah ini,lima di antaranya berkaitan dengan tidak adanya kemauan untuk berubah.ini akan mendatangkan kesulitan bagi organisasi yaitu :

  1. Punya pemahaman yang buruk atas orang lain
  2. Punya masalah pribadi
  3. Mengalihkan tanggung jawab
  4. Merasa aman dan puas
  5. Kurang imajinasi
  6. Tidak terorganisasi
  7. Mudah meledak kemarahannya
  8. Tidak mau mengambil resiko
  9. Merasa tidak aman
  10. Tidak punya semangat tim
  11. Melawan perubahan
  12. Tidak mau bersikap lentur

Menurut Niccolo Machiavelli “ tidak ada yang lebih sulit untuk ditangani ,lebih berbahaya untuk dilakukan atau lebih pasti dalam keberhasilannya,daripada memimpin dan memperkenalkan tatanan baru hal apapun”.

Tatanan hal yang pertama untuk diubah adalah diri kit,pemimpin setelah saya memikirkan betapa sulit mengubah diri sendiri ,penulis akan memahami berusaha mengubah orang lain.inilah ujian terpenting kepemimpinan.

  1. .Pemimpin Adalah Merupakan Sarana Perubahan

Pemimpin secara pribadi berubah dan memahami perbedaan  antara perubahan baru dan perubahan yang diperlukan,maka pemimpin itu harus menjadi sarana perubahan. Di dunia yang penuh dengan perubahan cepat dan ketidaksinambungan,pemimpin harus berada didepan untuk mendorong perubahan dan pertumbuhan jemaat serta menunjukkan jalan untuk mendatangkannya.

  1. c.       Pemimpin Harus Mengembangkan Kepercayaan Dengan orang Lain

Merupakan hal hebat sekali kalau orang percaya kepada pemimpin. Lebih hebat lagi kalau pemimpin percaya kepada pengikutnya. Kalau keduanya merupakan realitas,kepercayaan akan menjadi hasilnya. Semakin besar kepercayaan orang kepada pemimpin,semakin bersedia pula mereka menerima perubahan yang diusulkan oleh pemimpin. Warren Bennist dan Bert Nanus mengatakan bahwa “ kepercayaan adalah Lem emosional yang merekatkan pengikut dan pemimpin menjadi satu “ Abraham Lincoln berkata “ kalau anda merebut hati seseorang agar mendukung perjuangan anda,mula-mula yakinkan dia bahwa anda sahabatnya yang sejati.[1]

  

BAB III

KEPRIBADIAN PELAYANAN TUHAN

Untuk menjadi seorang pelayanan Tuhan atau pembela siding yang baik turutama sekali [2]kita harus mempunyai kepribadian pelayan Tuhan “hati,kepala,lidah dan seluruh gerak-gerik hidup kita menujuk bahwa benar kita adalah seorang  murid Tuhan yang mengiringi Kristus dan melayani Dia dalam pekerjaanNya yang mulia dalam dunia. Dalam pekerjaan duniawi hanya diperlukan “kecakapan”saja, kalau kita mempunyai “pengetahuan”dan”pengalaman “ dalam sesuatu pekerjaan tertentu,maka dalam hal itulah kita dipakai dan terpuji. Soal kepribadian tidak menjadi factor yang penting,itu sebabnya ada banyak orang yang cakap dan pintar tetapi dalam kecakapannya  dan kepintarannya Tuhan tidak dipermuliaakan sesama Manusia tidak diselamatkan. Lain sekali dengan seorang pelayan Tuhan, yaitu seorang yang melayani pekerjaan Tuhan. Bukan saja ia harus menpunyai pengetahuan dan kecakapan dalam pekerjaan yang ia jalankan,tetapi dibelakang tugasnya itu adalah seluruh kepribadiaannya.

Sebagai seorang pelayan Tuhan baiklah engkau menguji dirimu sendiri dengan Firman Tuhan,bagi Tuhan adalah terpenting hati kita yang sungguh cinta kepadaNya. Jika hati kita penuh dengan Tuhan,maka Rohulkudus ada didalam kita dan Ialah yang membentuk kepribadiaan kita menjadi “pelayanan Tuhan’yang sejati. Dengan kepribadian rohani dan manis itu, kita menjadi saluran berkat dimana saja kita berada, sehingga genaplah firman Tuhan bahwa kita adalah Garam dan terang Dunia ini ( Mat 5:13-16)

Perhatikanlah sekarang apa yang Tuhan Yesus terangkan tentang kepribadian seorang Hamba Tuhan.

 

 

  1. a.      Rendah Hati

Jangan angkuh sombong tinggi diri, congkat karena keadaan yang lebih baik dari orang lain,tetapi akuilah bahwa apa yang engkau ada dan punya  semuanya itu adalah Anugerah Tuhan saja. Pengakuan dan keyakinan ini akan mendorong engakau selalu untuk mengucap syukur dan menyembah Tuhan dengan hati yang rendah.

  1. b.      Hancur Hati

Turut berduka dengan orang yang berduka. Turut susah dengan orang yang susah. Jangan senang saja sedang lain orang menderita tetapi  harus engkau memperhatikan  nasib celaka sesamamu manusia,lalu berdoa dengan hati yang hancur dan berusaha dengan perbuatan yang  nyata untuk membawa mereka kepada terang dan jalan Tuhan.

  1. c.       Lembut Hati

Jangan kasar dank eras hati. Jangan kejam dan kepala batu. Tak boleh membenci sampai mengkhianati atau membunuh sesamamu. Tetapi selalu harus berlaku sabar dan ramah dengan sekalian orang.

  1. d.      Lapar dan Haus akan Kebenaran

Selain merindu akan Firman Tuhan yang menjadi terang dan pedoman hidup kita yang satu-satunya, mendengar dan membaca dan memperhatikan segala Firman Tuhan yang murni.

  1. e.       Menaruh Kasihan

Jangan ingat kepentingan sendiri saja atau mengasihi  diri sendiri saja,tetapi ingatlah kepentingan orang lain.,disekitarmu ada banyak orang hidup dalam kemiskinan,dalam kesakitan,ketindisan dan kegelapan dosa, oleh karena mereka tidak kenal kepada Tuhan, yaitu Allah Bapak yang maha baik  sumber segala berkat. Kasihilah mereka itu dan layanilah mereka dengan injil Tuhan.

  1. f.       Suci Hati

Mulai engkau membuka mata dari tidur,mengucapa syukur kepada Tuhan Yesus, mintalah pimpinanNya sepanjang hari itu supaya selalu dapat memandang Dia. Hanya orang yang berjalan dengan iman dan bukan dengan penglihatan yaitu orang yang memandang kepada Yesus Kristus saja dapat memilki hati yang suci dan bersih. Dari sumber hati yang bersih mengalirlah dari segala berkat  Tuhan.

  1. g.      Damai Hati

Tenang, Tentram,damai dan suka rukun dengan semua orang itulah sifat anak Tuhan yang berdiri didalam kebenaran Kristus, Yesus Kristus yang tidak kenal dosa telah dijadikan dosa karenan kita , supaya kita yang berdosa bias dijadikan kebenaran Allah [3]didalam Dia.

 

JADILAH PEMIMPIN YANG BERTANGGUNG JAWAB

Bab IV

  1. a.      Tanggung Jawab

Didalam usaha apa pun,pemimpinyalah yang bertanggung jawab atas keberhasilan atau kegagalan  misinya. Tetapi betapa sulitnya bagi sebagian besar para pemimpin untuk bertanggung jawab apa yang atas terjadi di dalam organisasi mereka.

  1. b.      Motivasi dan semangat Juang

Marilah kita memikirkan sebentar bagaimana peristiwa itu berhubungan dengan motivasi dan semangat juang. Sekolompok orang merasa bahwa pemimpin mewreka tidak melaksanakan tugasnya dengan baik tidak sepenuhnya merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi didalam usaha tersebut,maka para anggotanya sering menjadi kecewa,sinis atau takut. Kalau mereka merasa semakin tidak puas dengan kepemimpinannya maka motivasi dan semangat juang mereka akan menurun.penulis menjelaskan bahwa seorang hamba Tuhan itu memimpin jemaatnya yang lebih baik dan penuh tanggung jawab yang sepenuhnya.

 

  1. c.       Menerima Tanggung Jawab

Penerapannya sederhana. Bilamana saya tergoda untuk menuruti tipu muslihat  hati saya yang menipu itu,saya dapat secara langsung dan dengan berani menghadapinya, dan kemudian mengalahkannya dengan kekuatan Tuhan. Jika saya bertanggung jawab untuk sesuatu yang berjalan serba salah, seorang hamba Tuhan itu harus mengakui bahwa dia bertanggung jawab dan memperbaikinya.

Seorang pemimpin  harus bertanggung jawab dalam banyak bidang. Salomo menyebutkan liama hal yang merupakan tanggung jawab seorang pemimpin sbb:

  1. Menegur atau mengoreksi. Pemimpin bertanggung jawab untuk menegur dosa rekan sejawatnya atau memperbaiki serangkaian tindakan yang salah yang dilakukan bawahannya. Salomo berkata “ siapa menegur orang akan kemudian lebih disayangi daripada orang yang menjilat”(Amsal 28:23).
  2. Bertindak dengan tegas. Jika tiba kesempatan besar, pemimpin bertanggung jawab untuk bertindak  dengan tegas. (Amsal 24:1-12).
  3. Mendengarkan kritik. Pemimpin betanggung jawab untuk mendengarkan kritik dari rekan-rekannya. “siapa mengindahkan teguran adalah bijak “(Amsal 15:5) “tetapi siapa yang benci teguran akan mati”((Amsal 15:10).
  4. Bersikaplah jujur. Pemimpin bertanggung jawab untuk menjaga  agar setiap hal terbuka dan jujur.jika para pemimpin tidak jujur, tipuan mereka akan segera terungkap  dan semangat juang dan motivasi orang orang akan menurun.
  5. Bersikaplah adil. Pemimpin bertanggung jawab untuk bertindak adil terhadap bawahannya..[4]

 

 

TEKAD SEORANG PENGGEMBALAAN

‘untuk menjadi orang yang berguna bagi Tuhan” (II Tim 2:22)

Banyak orang senang menjadi pekerja yang berguna ,namun tidak mengerti caranya. Dibawah ini disebutkan beberapa hal yang membantu kearah itu, tetapi yang terpenting adalah apakah ia sendiri dapat menjalankannya.

  1. Memumpanyai titik pusat atau tujuan dalam kehidupan yang bersifat luhur  dan sesuai dengan tujuan Tuhan.setelah mempunyai tujuan,harus pula setia,(II Tim 4:15). Maka tujuan hamba Tuhan yang terbesar dan terbaik ialah apa yang dikehendaki Kristus bagi dia  untuk memperolehnya atau “Meninggikan Yesus,Menyelamatkan Jiwa”

Seorang ahli ilmu jiwa pernah berkat “apabila motif seseorang untuk menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan adalah sebagai suatu kompesansi,demi memuaskan keinginan menjadi pemimpin yang tidak diperoleh dalam dunia dan mengimbangin perasaan bersalah dalam hati nurani,akibatnya ialah dirinya dijadikan sebagai pusat dan tujuannya.

  1. Semata bersandar akan anugerah Allah untuk mengatasi segala  kesulitan dan rintangan di dalam kehidupannya. Paulus berkata “Sekarang aku menjadi sebagaimana aku ada ini hanya berdasarkan anugerah Allah”(I Kor.15-10).
  2. Bertekad menaati pengaturan Tuhan.

Senantiasa mengatakan “Ya” terhadap kehendak Tuhan,dan mengatak “Tidak” terhadap angan-angan diri sendiri. Tuhan Yesus taat sepenuhnya akan kehendak Bapak-Nya (Fil 2:8).

  1. Doa yang berlatih sebagai senjata

Bertekad dengan doa mengalahkan kesukaran dan musuh, bukan dengan perbuatan atau kekuatiran ,dalam Alkitab pahlawan-pahlawan yang menggunakan doa sebagai senjata,tak terhitung banyaknya .

  1. Giat belajar dan melaksanakan firman Tuhan.

Tuhan Yesus sendiri giat belajar Firman  Tuhan (Luk 2:46).

  1. Menganggap jiwa-jiwa yang tersesat sebagai suatu hal yang sangat penting, sehingga dengan segenap tenaga memberitakan injil .
  2. Mempunyai kepercayaan terhadap diri sendiri dan berharap akan hasilnya. (Yes 55:11)
  3. Harus mendapat urapan Rohkudus,[5]

 

 

KESIMPULAN PENULIS MEgambil kesimpulan bahwa setiap hamba Tuhan itu punya tanggung jawab yang besar dan selalu mengembangkan kepekaan suara hatinya untuk memahami orang lain dan perlu menetapkan kecenderungan atau orientasi utama dari  dirinya terhadap orang lain, dengan siap senantiasa untuk membangun hal yang positf bagi orang lain yang ada di sekitarnya.

Hamba Tuhan selalu berpikir yang positif terhadap tugas dan tanggung jawab yang diberikan Tuhan kepadanya.dan selalu mengembangkan hal-hal yang baik,misalnya jujur,tidak sombong,tidak egois,rendah hati,punya kasih,suka menolng orang lain dan lain-lain.

 

 

Pustaka

.Peter Wongso,Theologi Penggembalaan,Seminar Alkitab Asia TenggaraMalang,tahun 200

Leroy Eims,12 ciri kepemimpinan yang bertanggung jawab,Yayasan Kalam Hidup bandung

John C.Maxwell.Pengembangan Kepemimpinan Didalam diri anda,Bina Aksara,tahun 1995.

 

Dr.H L. Senduk,Pelayan Tuhan,Yayasan Bethel

 


[1][1] John C.Maxwell.Pengembangan Kepemimpinan Didalam diri anda,Bina Aksara,tahun 1995.hal 51.

[2][2] Dr.H L. Senduk,Pelayan Tuhan,Yayasan Bethel,hal 1.

[3] ibid

[4][4] Leroy Eims,12 ciri kepemimpinan yang bertanggung jawab,Yayasan Kalam Hidup bandung,hal 11.

[5] .Peter Wongso,Theologi Penggembalaan,Seminar Alkitab Asia Tenggara Malang,tahun 2001,hal 4.



LIMA SOLA
Desember 2, 2011, 3:07 pm
Filed under: Uncategorized
  1. Sola scriptura – by Scripture alone – Hanya Alkitab

Hanya Alkitab. Semua orang Kristen, apapun denominasinya, semua teolog apapun aliran teologinya selalu gembar-gembor bahwa Alkitab adalah FIRMAN Tuhan; Alkitab adalah standard kebenaran  2 Tim 3:16-17,dan saya Yakin bahwa Alkitab benar-benar Firman Allah seratus persen,dan sebagai orang percaya harus berpegang kepada Firman Tuhan.

 

  1. Sola fide – by faith alone – Hanya Iman

Sola fide ini adalah keselamatan hanya melalui iman kepada Kristus.

  1. Sola gratia – by grace alone – Hanya Anugerah

Sola Gratia berarti keselamatan yang kita peroleh di dalam Kristus adalah mutlak seratus persen  anugerah Allah dan tidak ada sedikit pun jasa manusia. ROMA  3:23.24.

 

  1. Solus Christus – Solo Christo – Christ alone; through Christ alone – Hanya Kristus

Kristus sebagai Raja berarti Dialah raja diatas segala Raja yang kerajaan-Nya tak akan berubah dari dahulu,sekarang dan selama-lamanya ,sehingga setiap raja di bumi harus bertekuk lutut Menyembah-Nya. (Efesus 2:4-5; Ibr 10:11,14.

 

  1. Soli Deo gloria – glory to God alone – Hanya untuk kemuliaan Allah

Pengakuan umat manusia  yang benar percaya kepada Tuhan dan percaya kepada kebesaran Allah  (Yes 42:1-25,titus 2:13)