niasmeiman


Cinta dan Persahabatan Yang Sejati
Desember 2, 2011, 4:04 pm
Filed under: Uncategorized

 

PENGANTAR

Dalam kehidupan bersama cinta dan persahabatan sangat penting dan selalu berkaitan satu terhadap yang lain. Relasi keduanya menyertai hidup manusia. Relasi ini selalu memiliki dua aspek. Pertama, relasi itu saling menguat artinya saling melengkapi, membangun dalam kehidupan bersama. Kedua, relasi itu diwarnai dengan suatu sikap yang dangkal. Dalam relasi ini tidak ada saling menguat atau tidak ada hubungan timbal balik, yang ada hanya mencari keuntungan sepihak yang disertai dengan kecurigaan, kekerasan dan pemaksaan kehendak bahkan saling membunuh satu terhadap yang lain. Relasi ini tidak akan dibahas dalam tulisan ini.

Tulisan ini menyajikan satu model persahabatan dan cinta yang sejati yang mewarnai setiap manusia beriman (para murid Kristus), serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari yang membawa setiap insan beriman untuk memahami arti persahabatan dan cinta sejati. Apabila dalam keseharian, relasi ini dihidupi maka relasi itu akan menghidupkan, indah dan akhirnya mampu menata kehidupan bersama.

CINTA

Dalam masyarakat banyak orang yang berkurban kepada orang lain ha-nya karena cinta terhadapnya. Bahkan orang mati demi cinta itu. Tulisan ini membahas secara gamblang arti cinta itu dalam beberapa aspek mendasar yang sering dialami oleh manusia.

Pertama, cinta itu menerima setiap orang apa adanya. Setiap orang adalah unik artinya punya kekhasannya sendiri yakni memiliki beberapa perbedaan dan kemiripan, tetapi juga ada kesamaan untuk saling melengkapi. Jika setiap orang memahami dengan baik perbedaan tersebut maka relasi itu akan menjadi sangat berkembang. Relasi cinta diandaikan perlu saling belajar untuk mengakui kebaikan, kekurangan yang dimiliki seseorang. Dalam konteks hidup bersama justru saling menguat bila menerima dan mengakui keunikan tersebut.

Kedua, cinta itu berkurban. Artinya merelakan segalanya untuk orang yang dicintai.Seseorang yang saling mencintai akan berkurban untuk kepentingan atau kebaikan orang yang dicintainya. Ia menyediakan waktu, tenaga bahkan pengetahuan yang dimiliki untuk orang yang dicintainya. Salah satu contoh, Seorang ayah akan mengurbankan waktu, tenaga, untuk bekerja demi kelangsungan hidup keluarganya. Dia melakukan atas dasar cinta, rasa tanggung jawab, dengan hati yang tulus tanpa paksaan pihak manapun. Dia berkurban semata-mata karena mencintai anak dan istrinya. Apabila dilakukan dalam, demi dan karena cinta maka pekerjaan seberat apapun akan dijalankan dengan senang hati, dedikasi yang tinggi. Seperti Kristus yang mengorbankan hidup-Nya untuk orang yang dicintainya. Dia menghabiskan hidup-Nya agar manusia memperoleh kehidupan. Apakah para pengikut Kristus menyediakan waktu dan tenaga untuk orang lain? Pernahkah mendoakan orang-orang yang sedang menderita sakit, kelaparan bahkan mendoakan musuh sekalipun? Bagi para religius, sudahkah menyediakan waktu dan tenaga untuk melayani dan membantu orang yang kehilangan iman, yang sedang mencari Allah? Pernahkah berpikir untuk membawa mereka kembali pada Tuhan? Cinta yang berkurban justru berusaha untuk mengangkat orang lain dan membawa mereka pada kebaikan.

Ketiga, cinta itu memberikan diri secara total, artinya hidup seluruhnya kepada orang yang dicintai. Manakala seseorang memiliki cinta yang tidak total atau menyeluruh dan setengah-setengah maka cinta itu akan dilunturkan oleh tantangan, godaan dan pengaruh dari pihak manapun. Akan tetapi sebaliknya, manakala cinta itu total akan membahagiakan dan menguntungkan. Cinta semacam ini tidak memperhitungkan kepentingan dirinya, yang penting orang yang dicintai selamat. Bukti yang sangat nyata adalah Tuhan Yesus. Dia memberikan diri sepenuhnya untuk menyelamatkan manusia. Tanpa ada jasa sedikitpun dari manusia, tanpa memperhitungkan apakah manusia itu baik atau tidak. Yesus rela menderita sengsara, disiksa dengan keji sampai wafat di salib semuanya itu karena mencintai manusia. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16) Cinta Allah yang tidak terbatas terhadap manusia ciptaan-Nya terbukti dalam diri Tuhan Yesus. Seandainya Yesus tidak mati maka manusia akan mengalami kematian kekal. Konsekuensinya sangat besar yakni soal hidup dan mati.

Hendaklah setiap orang Kristen mestinya bersyukur atas kasih Allah yang luar biasa dahsyat ini. Selayaknya setiap saat orang Kristen belajar bersyukur dan terus meneladani cinta Yesus yang total terhadap sesama. Belajar untuk hidup tidak hanya untuk memikirkan kepentingan pribadi, tetapi lebih dari itu, belajar juga untuk hidup bagi kepentingan orang lain. Semuanya atas dasar cinta.

Contoh; Kaum religius yang membaktikan diri secara khusus pada Yesus. Mereka yakin bahwa rahmat Allah yang menyebabkan mereka mencintai Yesus secara total. Hidup dibaktikan kepada Yesus. Penghayatan atas cara hidup ini lahir dari cinta yang bebas dan total maka penghayatan selanjutnya akan nampak dalam pelayanan mereka kepada umat. Jika kita melayani atas dasar cinta yang total maka akan membawa umat untuk lebih dekat pada Tuhan. Sebaliknya apabila pelayanan itu tidak total maka tidak membuahkan hasil. Menarik kalau menyimak kehidupan pastor dari Ars (St. Yohanes Maria Vianney). Dia adalah orang yang sangat sederhana, kemampuan intelektual tidak menonjol, tetapi ia memiliki cinta yang total kepada Yesus. Dan sangat mengagumkan karya pelayanannya membawa banyak orang untuk bertobat dan memiliki cinta yang mendalam terhadap Yesus.

PERSAHABATAN

Relasi persahabatan hampir dialami oleh setiap orang. Persahabatan itu sangat beragam ungkapannya tergantung pada perspektif setiap orang. Namun kalau dicermati dengan baik persahabatan bukan sekedar relasi saya dan kamu, tetapi persahabatan itu mempunyai perspektif yang universal. Persahabatan merupakan relasi antara pribadi yang sungguh-sungguh mengenal orang yang kita hadapi. Pengenalan yang dimaksud bukan hanya sebatas mengenal secara lahiriah, tetapi yang lebih penting adalah mengenal seseorang dari kedalaman hati yang terdalam. Relasi itu memuat ketulusan dan kejujuran, kesetiaan dalam segala hal terutama di kala menghadapi persoalan dalam persahabatan tersebut. Persahabatan sejati justru teruji dalam menghadapi tantangan yang berat.

Relasi itu diandaikan mengenal dengan baik kelemahan atau kekurangan yang dimiliki seseorang. Menyadari bahwa setiap orang tidak ada yang sempurna dalam hidup ini. Jika demikian maka lahirlah sikap saling pengertian. Dalam ulasan singkat ini penulis mencoba menampilkan beberapa pengertian yang mungkin membantu setiap pembaca sebagai suatu acuan dalam menjalin persahabatan yang baik.

Pertama, persahabatan itu menyambut siapa saja. Artinya menerima siapa saja yang datang atau yang kita jumpai. Bahkan menyambut orang yang tidak kenal dengan hati yang iklas dan bersikap positif serta menghindari prasangka buruk terhadapnya. Ketika Sri Paus berbicara dihadapan ribuan kaum muda Muslim, Sri Paus tidak mewartakan Injil saat itu, tetapi dia tampil sebagai sosok yang mengedepankan persaudaraan, bahwa kita semua apa pun agama dan sukunya kita lahir dari satu keturunan yakni anak-anak Abraham. Jika demikian selayaknya kita hidup dalam kesatuan dan kedamaian. Mereka menyambut kehadiran Sri Paus sebagai figur pemersatu. Dan Sri Paus menyambut siapa saja yang ingin berdialog atau yang ingin mendengarkan dia.

Kedua, persahabatan itu bercahaya didepan orang lain. Orang yang bersahabat memancarkan sinar terang pada wajahnya, ekspresi yang gembira, sukacita. Terang juga bisa diartikan penuntun di kala orang lain mengalami kesulitan, kegelapan hidup dan kebingungan atas persoalan. Terang juga berarti membawa pengetahuan baru, bergunabagi orang lain. Ekspresi yang ceria, sukacita dan kegembiraan bukan yang bermalasan. Lebih dari itu membawa terang bagi orang yang tersesat dan kehilangan arah hidup.

Ketiga, persahabatan itu memesona. Memesona bukan hanya soal penampilan, tetapi kehadiran seorang pribadi yang matang. Kehadiran pribadi yang sungguh-sungguh baik dan menarik semua orang karena kebaikan yang terpancar lewat sikap dan tindakannya. Sikap yang tidak berubah dalam kelembutan, keramahan yang tulus dan senyum yang iklas. Singkatnya, segala sikap dan perbuatan kita yang baik, membawa berkat bagi orang lain. Misalnya, kehidupan seseorang yang selalu menolong orang lain dan rela membantu dalam kesulitan. Juga perbuatan konsisten, tegas dan gigih dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Segala kebaikan itu menggugah hati banyak orang yang meneladani perbuatannya.

Singkatnya kebaikan, keramahan, tingkah langkah yang baik dan segala pelayanan yang tulus dan ikhlas akan menarik orang untuk belajar dan mengikuti jejaknya. Salah satu contoh aktual yakni Sri Paus Yohanes Paulus II (Almarhum). Dalam upacara pemakamannya para tokoh agama dan beberapa pemimpin negara menghadiri upacara tersebut, meskipun tidak menganut keyakinan yang sama. Mengapa mereka rela hadir dalam upacara tersebut? Jawabannya adalah semangat kesatuan dan persaudaraan universal yang sangat kental dalam diri Sri Paus. Mata seluruh dunia tertuju kepadanya dan dunia berduka ketika mengenang segala kebaikan yang dilakukannya.

Keempat, persahabatan itu menyelamatkan dan menghidupkan. Persahabatan dalam arti ini yakni kehadiran pribadi yang mampu membawa kebahagiaan bagi orang sekitar. Dia sungguh menjadi andalan bagi orang lain. Misalnya, ketika orang berada dalam bahaya banjir, dia hadir sebagai penolong, ketika orang berada dalam kelaparan dia hadir untuk memberi makan, dan lain-lain. Persahabatan yang menyelamatkan mampu menghubungkan kembali suatu kelompok yang sudah mulai terputus atau tidak ada harapan untuk rukun membali. Kehadiran seorang sahabat mampu menyatukan kembali, memberikan semangat serta memulihkan segala peristiwa yang terjadi. Persahabatan itu juga menyegarkan iman yang sudah mulai layu, rontok atau gugur karena ilah-ilah zaman. Hal yang lebih menarik adalah persahabatan Yesus yang mempunyai dampak positif bagi orang yang dijumpai-Nya. Dalam pelayanan seringkali Yesus menyembuhkan orang yang sakit. Mempertobatkan orang-orang yang berdosa seperti Maria Magdalena. Dan banyak hal lain yang dilakukan Yesus maka teladan Yesus ini menjadi contoh sekaligus tugas bagi orang Kristen. “Kamu adalah sahabat-Ku jikalau kamu melakukan perintah-perintah-Ku”(Yoh 15:14). Dalam sabda ini sangatlah jelas bahwa yang menjadi sahabat-sahabat Yesus adalah orang-orang yang sungguh-sungguh menjalankan perintah Tuhan. Mereka mengenal Tuhan yang penuh kasih, yang menjaga, memelihara se-luruh hidup mereka.

Pengarang buku-buku sahabat-sahabat Yesus mengisahkan dengan baik mengenai kehidupan para kudus. Siapakah mereka itu? Mereka adalah orang yang sungguh-sungguh mencintai Yesus dan menyerahkan diri seutuhnya kepada-Nya. Mereka sangat dekat dengan Yesus dan orang-orang biasa seperti manusia umumnya. Mereka menjalankan persahabatan dengan Yesus sambil membuka hati, setia dan tekun mere-nungkan firman Tuhan dan dalam doa yang tidak kunjung henti. Mereka layak disebut sebagai sahabat-sahabat Yesus.

BAGAIMANA DENGAN KITA?

Kita juga akan menjadi sahabat-sahabat Yesus kalau kita hidup dalam iman, tekun dalam merenungkan firman Tuhan, setia dalam doa dan mempraktikkan dalam hidup yang nyata. Persahabtan itu menjadi indah, kuat dan menghasilkan buah yang nyata jika dilakukan dalam Tuhan, karena ini yang berkenan pada-Nya. Meskipun kita tidak diangkat menjadi kudus, tetapi memperoleh kebahagian dalam hidup dan mengalami kehadiran Tuhan secara nyata dalam hidup.

HUBUNGAN PERSAHABATAN DAN CINTA

Cinta merupakan dasar kekuatan dan tumpuan dari persahabatan yang sejati. Persahabatan tidak bertahan karena tidak menghadirkan cinta. Karena itu cinta dan persahabatan mempunyai relasi yang erat, tetapi dasarnya adalah cinta. Kalau orang memiliki cinta yang total maka dalam persahabatan pun akan semakin baik dan bertumbuh dengan baik. “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawa-Nya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13). Yesus telah menunjukan suatu model persahabatan yang sejati. Bersahabat berarti memberikan nyawa untuk sahabatnya.

KESIMPULAN

Dalam mencintai perlu suatu pengorbanan, sikap menerima dan memahami orang lain tidak hanya aspek lahiriah saja, tetapi melihat secara menyeluruh. Apabila persahabatan berdiri atas cinta yang sejati maka persahabtan itu akan menjadi lebih baik dan pasti bertumbuh dalam kehidupan bersama. Cinta dan persahabatan sejati tidak memandang perbedaan apa pun, tetapi menyatukan semua pihak yang ingin bersahabat. Semuanya akan teruji dan terbukti ketika orang mulai berelasi dengan sesamanya. Semakin besar cinta maka persahabatan itu semakin kuat dalam kehidupan bersama.

 


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: